Archive Page 2

Bulan lalu usaha saya lumayan aktif dalam mengatur finansial. Menata ulang pengeluaran, mengurangi makan di luar, dapet pinjeman dana nganggur utk averaging reksadana, lebih kritis dalam berinvestasi dan yang paling penting, membiasakan diri mendiskusikan setiap keputusan finansial saya dengan pasangan.

Peningkatan tertinggi di sisi investasi adalah di reksadana PNM Ekuitas Syariah (+66.67%). Tapi peningkatan ini bukan dari revaluasi imbal hasil, melainkan tambahan penyertaan saya. Saya puas dengan kinerjanya saat menghadapi gejolak koreksi bursa sejak awal tahun ini. Pelayanannya juga oke. Staf yang melayani saya juga sangat membantu walo dilihat dari ukuran penyertaan, modal saya ngga besar.
Lah kok malah jadi promosi? ;-)

Balik ke topik, saya masih khawatir dengan angka pengeluaran saya bulan lalu. Walau bisa mengurangi separuh lebih dikit tagihan kartu kredit, saya masih punya tendensi untuk beli barang yang ngga diperlukan. Terutama untuk barang menyangkut hobi, yang ‘kebetulan’ lagi diskon. :-D Wah, butuh niat & usaha yang bener² kuat buat menyeret diri keluar dari arena bazar/pameran tanpa menenteng belanjaan. Sekitar 20% tagihan kartu bulan lalu adalah akibat dosa beli action figure waktu pameran di bilangan SCBD.

Pos utang investasi saya melonjak tajam. Ini karena ada dana titipan yang ngga akan terpakai untuk beberapa waktu, dan saya putuskan memanfaatkan dana itu untuk menurunkan rerata NAV reksadana² saya. Sedangkan di pos utang konsumtif, saya berencana melunasinya dalam minggu ini.

Mengenai revaluasi, performa reksadana saya belum bisa pulih ke posisi seperti akhir tahun lalu. Dua reksadana Manulife, Dana Saham & Dana Tumbuh Berimbang masih memberikan imbal hasil negatif. Hanya Ekuitas Syariah dari PNM yang sudah kembali tumbuh positif.

Terakhir, menyangkut tujuan finansial pertama, dengan posisi per akhir bulan ini sebesar 1,672.36 borz, I’m on track untuk bisa memenuhi target itu dalam 4 bulan. :-)

NetWorth as of May 2008

Asset Liabilities
Tunai 175.55 Kartu Kredit (1,767.83)
Tabungan 4,725.69 Premi Asuransi (539.33)
Dana Darurat 1,672.36 Utang Investasi (6,876.50)
Manu Dana Saham 3,397.80 Utang Konsumsi (716.77)
Manu Dana Tumbuh Berimbang 4,045.00 Revaluasi Reksadana (187.96)
PNM Ekuitas Syariah 4,045.00 Revaluasi Nilai Tunai PruLink (90.54)
Nilai Tunai PruLink 1,793.28
Jamsostek 1,397.14
Piutang 355.96
Total Asset : 21,863.99
Total Liabilities : (10,178.94)
NetWorth : 11,685.05 (+1,560.9 borz = 15.42%)

! Highlight Posisi Finasial bulan Mei 2008:

  • Menambah penyertaan reksadana untuk menurunkan rerata NAV
  • Mengurangi 50% utang kartu kredit
  • Imbal hasil investasi masih negatif (-278.5 borz)

Apa Itu Dana Darurat?
Dana darurat bisa diartikan sebagai sejumlah dana tunai yang dapat diakses kapan saja untuk keperluan² yang tidak terduga, tanpa mempengaruhi kesehatan finansial secara menyeluruh. Contohnya: biaya berobat, ongkos reparasi kendaraan rusak, sumbangan belasungkawa, dan (amit²) pemutusan hubungan kerja. Tujuannya adalah untuk menghindari kemungkinan kita harus berhutang untuk menutupi pengeluaran mendadak yang di luar rencana. Sebab sekali kita terlilit hutang, mungkin butuh waktu yang cukup lama untuk keluar dari jerat bunga berbunga.

Banyak pendapat yang menyebutkan prioritas finansial utama kita seharusnya adalah membentuk rekening dana darurat, segera setelah kita memenuhi kebutuhan pokok & mengendalikan mengurangi pengeluaran sekunder. Mulai sisihkan uang yang tersisa ke rekening dana darurat, dan disiplinkan diri untuk tidak menyentuhnya kecuali benar-benar terpaksa.

Kadang gemas rasanya lihat saldo di tabungan masih mencukupi, padahal lagi ada diskon gede²an di mal. Tapi ingat, rekening dana darurat bukan untuk beli baju baru. Bukan buat ganti hape. Bukan buat nebus iPod. Sekali lagi, penggunaan dana darurat hanya untuk saat-saat genting!

Berapa yang harus disiapkan?
Idealnya, dana darurat harus mampu menyokong pengeluaran pokok Anda selama 1-6 bulan walaupun tanpa pendapatan baru.
Beberapa faktor yang mempengaruhi besaran dana darurat yang harus disiapkan:

  1. Kesehatan – punya penyakit kronis atau penyakit keturunan?
  2. Tipe & Prospek kerja – apakah kerjaan Anda mengandung resiko tinggi? Gimana prospek perusahaan tersebut? Apakah kinerja & prestasi Anda dianggap bagus oleh atasan?
  3. Sumber pendapatan lain – ada penghasilan sampingan ngga? Punya instrumen investasi yang memberikan imbal hasil yang pasti?
  4. Berapa banyak anggota keluarga yang bergantung pada Anda? Apakah pasangan juga bekerja? Kapan si kecil mulai masuk sekolah?

Semakin stabil, terjamin dan terencana pendapatan rutin, besaran dana darurat yang harus disiapkan ngga perlu gede² banget. Rentang 1-3 kali pengeluaran rutin bulanan seharusnya cukup.
Sebaliknya, kalo Anda kerja di bidang beresiko tinggi dan punya penyakit bawaan sementara istri tidak bekerja, ada baiknya kita siapkan bantal keuangan yang lebih tebal. Biar kalo jatoh, ngga terlalu sakit. ;-)

Be prepared
Putuskanlah besar dana darurat yang akan membuat Anda merasa aman, nyaman dan siap menghadapi cobaan finansial yang mungkin menghadang. Segera mulai kebiasaan menyisihkan uang untuk kepentingan ini. Dan disiplinkan diri untuk tidak mengotak-atik rekening dana darurat kecuali benar-benar terdesak.
Sebab kesejahteraan hidup adalah milik mereka yang bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.

Mempersiapkan prioritas dan memprioritaskan persiapan
Menyiapkan dana darurat jadi prioritas utama saya saat ini. Sejak mulai kerja, kelebihan dana dari pendapatan bulanan selalu saya habiskan untuk investasi. Awalnya saya beralasan, ini adalah bentuk tabungan sekaligus investasi saya jangka panjang. Uang tidur yang menurut saya ngga akan diperlukan dalam waktu dekat, daripada dibiarkan di rekening tabungan biasa yang imbal hasilnya kecil mendingan dibeliin reksadana saham. Plus ditambah ngurangin resiko gesek kartu debit kalo masih ada saldo. ;)

Tapi apakah benar dengan menginvestasikan semua kelebihan uang tanpa ada simpanan tunai, kehidupan finansial saya akan jadi lebih baik? Bisa ya, bisa tidak.
Ya, kalau semua berjalan lancar seindah mimpi.
Tidak, kalau kita hidup di dunia nyata. Dan sayangnya, hidup ini memang nyata. Banyak hal² (kalo ngga mau disebut rintangan) unik yang mungkin menelikung jauh dan menyimpang dari harapan finansial kita.

Kenapa perlu?
Saya mulai tersadar tentang ini saat harus membayar ongkos dokter + obat sebesar lebih dari 500rb rupiah untuk sakit yang “ngga penting”, diare + flu.
Wow. Uang segitu ngga sedikit!
Memang sih, saya tinggal teruskan tagihannya ke kantor dan beban tunai buat saya cuma sepersepuluh total tagihan. Tapi gimana kalo nanti batas tunjangan kesehatan saya habis? Mo bayar pake apa?

Berapa banyak?
Mempertimbangkan faktor² penentu tingkat dana darurat yang harus disiapkan, saya cukup nyaman dengan target awal 2 kali pengeluaran pokok bulanan. Which is around 2,815.32 borz / bulan.
Biar angkanya bagus, gimana kalo kita bulatkan saja targetnya jadi 6,000 borz?

Okay, all set! :mrgreen:

Tujuan finansial pertama saya adalah menumpuk bantal dana darurat sebesar 6,000 borz dan target saya bisa memenuhinya dalam waktu 4 bulan.

Dilbert: Fitur baru

Nemu sesuatu yg beda di GBL?

Bukan…, bukan itu.
Ehm.. iya sih, warnanya jadi beda sering gonta-ganti akhir2 ini. Itu karena dua minggu ini saya pusing nentuin format tampilan GBL.

Satunya lagi.
*hint hint* Posisinya ada di sidebar kanan… ;-)

Yakkk tullll! :lol:
GBL dengan bangga mempersembahkan komik strip Dilbert!

Temen² mungkin familiar dengan tokoh ini, karena Kompas juga menyajikan komik strip di bagian Klasika, deket sama jadwal bioskop.
Buat yg baru ngeh sama dia, Dilbert (menurut Wiki) adalah komik strip karya Scott Adams yang menampikan satir keseharian karyawan (posisi dia engineer) di kantor kecil. Isi satirannya sederhana, tapi sering ngena banget. Ngecek kolom Dilbert di Kompas jadi acara favorit tiap pagi di ruangan kami. :-p

Enjoy !

Let’s Go!

Aaaaah…!

Akhirnya! :D

Setelah 2 minggu setengah mati berkutat nyari tema yg cocok & nyari solusi utk nampilin NetWorth (maklum… gaptek) ;) , akhirnya saya cukup puas dengan format yg sekarang.

Simpel. Mudah dibaca.

Okay… banyak sekali topik yg sebenarnya ingin saya tulis. Tapi memang dasar tukang penasaran, waktu luang saya akhirnya abis buat ngulik2 tema & belajar lagi kode CSS. Now that the make-over is done, saya jadi bisa lebih konsen ngisi konten ketimbang membenahi tampilan.

Semoga.
Hehehehe..

Mmmkay, saatnya memulai maksud dari tujuan utama saya bikin blog ini.

Saya ingin belajar mengelola finansial dengan cara membuka sejujurnya posisi finansial saya. Dengan harapan, saya jadi lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan menyangkut finansial pribadi. Karena Anda sekalian akan dapat ikut menilai setiap langkah yang saya tempuh, sehingga kesalahan yang bodoh mungkin berakibat ditertawakannya keputusan itu oleh seluruh penjuru dunia.

Well… itu cuma kalo ada yg mau peduli. ;)

Jadi, di bawah ini saya beberkan posisi keuangan saya per hari ini, 28 April 2008

NetWorth as of April 2008

Asset Liabilities
Tunai 507.24 Kartu Kredit (3,606.85)
Tabungan 4,599.49 Premi Asuransi (539.33)
Dana Darurat 0 Utang Investasi (2,417.00)
Manu Dana Saham 3,397.80 Utang Konsumsi (401.26)
Manu Dana Tumbuh Berimbang 2,831.50 Revaluasi Reksadana 0
PNM Ekuitas Syariah 2,427.00 Revaluasi Nilai Tunai PruLink 0
Nilai Tunai PruLink 1,793.28    
Jamsostek 1,397.14    
Piutang> 145.13    
Total Asset : 17,098.59
Total Liabilities : (6,974.44)
NetWorth : 10,124.15

Tapi jangan lupa ya teman-teman, bahwasanya angka-angka yang tertulis di sini menggunakan mata uang borz. :)

Beberapa pos yang mungkin memerlukan penjelasan:
1. Pos Nilai Tunai Asuransi : Adalah nilai tunai unit link yang saya miliki saat beli
2. Pos Investasi : Adalah nilai tunai akuisisi investasi
3. Pos Jamsostek : Adalah nilai tunai rekening Jamsostek saya (dicetak tahunan)
4. Revaluasi : Adalah penyesuaian nilai tunai pos-pos lain terhadap harga pasar saat ini

Well, ngga juga sih. Hehehehe..

Walau saya ingin menyajikan data dan posisi finansial secara transparan (that’s what this blog is all about, anyway), tapi saya belum merasa nyaman menyangkut keamanan informasi pribadi di internet. Entah kenapa rasanya masih tabu (malu) untuk menuliskan jumlah kekayaan saya dalam bentuk nyata rupiah. Nah, semalam saya dapet ide, kenapa ngga pakai sistem konversi aja? Dengan demikian, saya ngga perlu menampilkan angka nyata dalam rupiah tetapi masih dapat menggambarkan besaran dan proporsi data secara konsisten.

Artinya, misal saya punya posisi: 100 rupiah uang tunai terhadap 1000 rupiah aset total, berarti saya punya perbandingan uang tunai/aset total = 1:10
Menggunakan sistem konversi dengan angka pengali 3.5 misalnya, posisi saya akan menjadi: 350 rupiah uang tunai terhadap 3500 rupiah aset total. Perbandingan uang tunai/aset total akan bernilai tetap, 1:10

Satuan baru hasil konversi dari rupiah itu akan menggunakan simbol borz, dan menjadi mata uang resmi di blog ini. ;)

Jadi konvensinya adalah :

  1. Kecuali tertulis secara spesifik, setiap besaran nominal dalam blog ini disajikan dalam satuan borz.
  2. Nilai tukar borz terhadap rupiah menggunakan metode nilai tukar tetap, dengan besaran yang dirahasiakan. :D
    Tapi nilainya akan selalu konsisten kok…

Musuh itu adalah diri sendiri
Kalo ditanya, apa musuh terbesar dalam usaha kita menyisihkan pendapatan untuk masa depan? Yep. Jawabannya adalah diri kita sendiri.

Tahukah Anda, orang cenderung untuk menghabiskan lebih banyak uang saat lagi sedih? Studi dari peneliti di Amerika menunjukkan bahwa orang yang sedang sedih dan mengasihani diri sendiri cenderung membelanjakan lebih banyak uang ketimbang orang yang dalam keadaan netral. Ini karena ketidakpuasan pada diri sendiri menyebabkan orang tersebut menilai rendah harga diri dan barang² yang dimiliki. Akibatnya, mereka rela membayar lebih untuk mendapatkan suatu barang tertentu sebagai cara untuk meningkatkan kepercayaan dirinya.

Kendali dan disiplin diri adalah sangat penting dalam usaha kita mengelola kehidupan finansial. Tujuan maupun target-target finansial tidak akan tercapai tanpa dibarengi peningkatan disiplin diri dalam menata keuangan. Bentuknya bermacam-macam, bisa dalam bentuk kedisiplinan kita menabung rutin maupun melalui pengorbanan untuk mengurangi pengeluaran.

Jadi lebih kaya dengan mengurangi pengeluaran
Sebagai contoh, seorang perokok yang memiliki hutang akan mampu melunasinya lebih cepat jika dia menghentikan kebiasaan itu dan menggunakan uang jajan rokok untuk meningkatkan pembayaran cicilan hutang. Menghentikan kebiasaan menghisap dua bungkus rokok perminggu berarti senilai dengan penghematan kurang lebih Rp 1.2 juta / tahun.
Angka ini kurang berarti? Bagaimana kalau dituliskan dalam bentuk lain. Berhenti dari kebiasaan merokok dua bungkus perminggu setara dengan hasil investasi Rp 10.130* juta pada 5 tahun ke depan?

Mulai terasa bedanya? ;)

Ada 3 cara yang dapat kita lakukan untuk hidup sejahtera:

  1. Meningkatkan pendapatan (dengan menciptakan sumber pendapatan baru atau meningkatkan keahlian profesi)
  2. Membatasi pengeluaran yang tidak perlu (dengan mengurangi belanja konsumtif atau menurunkan standar gaya hidup)
  3. Melakukan keduanya

Semakin pandai kita mengendalikan diri, semakin lancar pula jalan demi memenuhi tujuan finansial kita.

Btw, seperti yang tertulis di awal artikel ini, jangan pergi belanja atau jalan² ke mal saat sedang sedih! Para subyek penelitian tersebut ada yg bersedia membayar hingga 3 sampai 4 kali harga yang biasanya mereka bayar saat normal!

* asumsi: harga rokok Rp 12rb/bks, dana ditanam di reksadana dengan target pertumbuhan optimis (18%)

Ini langkah² awal yang saya terapkan saat mulai belajar mengelola finansial. Ngga sulit kok.

1. Bedah Pengeluaran Bulanan
Mulailah mencatat semua pemasukan dan pengeluaran bulanan Anda. Ngga perlu memaksakan diri pakai software personal finance kalo memang belum perlu. Beberapa lembar kertas dan sebatang pensil udah cukup kok.
Yang terpenting di saat mulai melacak ke mana uang kita pergi adalah kejujuran. Kalo memang Sabtu lalu lagi boros, habis 100rb untuk makan di luar, ya tulis aja segitu. Anda mungkin mulai ngerasa ngga nyaman saat melihat angka² besar mulai bermunculan di pengeluaran yang ngga penting. Tapi saat ini, jangan dulu memanipulasi angka.

2. Buat Anggaran!
Luangkan waktu untuk merumuskan alokasi anggaran bulanan. Renungkan sejenak apa saja pendapatan tetap (yang pasti diterima bulanan), pengeluaran yang bersifat rutin dan pengeluaran yang sifatnya insidentil. Petakan semua itu menjadi pos-pos, dan pilah berdasarkan sifatnya.da banyak opini tentang berapa persen kita harus mengalokasikan pendapatan ke pos-pos pengeluaran. Ngga ada yg 100% benar dan ngga ada yg sepenuhnya salah, karena alokasi anggaran bersifat unik dan pribadi.
Ada artikel yang bagus mengenai struktur alokasi anggaran menggunakan aturan 60%. Intinya, Pak Jenkins menyarankan kita untuk membatasi pengeluaran rutin bulanan maksimal 60% dari pendapatan kita. Sisanya, dibagi rata masing² 10% dan dialokasikan untuk:

  1. Tabungan pensiun
  2. Tabungan jangka panjang
  3. Dana darurat
  4. Uang foya-foya

Boleh dibilang, struktur anggaran saya saat ini mendekati model ini.

3. Buat Target Finansial
Now comes the best part

Bermimpilah!

Buat titik-titik target pengelolaan finansial untuk jangka panjang. Beli rumah, biaya sekolah anak, target kekayaan saat pensiun, dsb. Ini akan membantu kita dalam memusatkan usaha perencanaan keuangan menjadi lebih mudah.
Sebab inti dari pengaturan keuangan demi kehidupan sejahtera di masa yang akan datang adalah memulainya seawal mungkin, sekarang juga.

Sudah dicoba? ;)

Langkah berikutnya adalah Disiplin Diri dan Evaluasi Kekayaan Rutin.
Coming soon…

Itu tekad saya dengan memulai blog ini.

Setamatnya kuliah, udah hampir satu tahun saya bekerja. Tapi hingga saat ini penghasilan yang saya terima seakan hanya numpang lewat. Ngga pernah mampir lama di tabungan. Istilah kerennya (well, sebenernya ngga keren sih), “Living pay-check to pay-check“. Plus tambahan beberapa kasbon. :)

Kerja di bidang keuangan (hal yang baru karena latar belakang saya pendidikan teknik), membuka mata dan wawasan untuk lebih berhati-hati dalam menata keuangan. Tujuannya sih cuma satu, hidup sejahtera. Karena saya percaya kendali untuk kesejahteraan hidup ada di tangan kita.

Blog ini akan menjadi jurnal perjalanan saya belajar untuk mewujudkan itu.

Terinspirasi oleh:




Tweet @GakBorosLagi

    ;

Today's Dilbert