Bulan Juni lalu benar² bermakna buat saya. Di bulan tersebut, saya mengambil 2 keputusan yang akan mengubah hidup saya. Tulisan ini secara langsung memang ngga ada kaitannya dengan konsep GBL, tapi akan jadi dasar artikel lanjutan saya saat kedua hal ini dilihat dari sudut pandang pengelolaan finasial pribadi.
1. Pindah kerja ke tempat yang lebih kompleks dan dinamis
Minggu depan menandai satu tahun genap saya kerja di tempat yang sekarang. Tapi walo baru setahun, kerjaan sekarang sudah mengkondisikan saya di zona nyaman. Ngga banyak tuntutan, volume kerja normal, suasana & rekan kerja yang menyenangkan, dan resiko kerja juga terukur. Dari segi yang lebih luas, bisa dibilang juga perusahaan sekarang tuh aman, stabil dan ngga neko-neko.
Bandingkan dengan perusahaan baru yang akan saya tuju. Dari sejak wawancara pertama udah diwanti-wanti, basis penilaian di perusahaan tersebut adalah kompetisi dan kompetensi. Kalo ngga perform, siap² ditinggal. Trus perusahaannya sendiri sedang gencar2nya ekspansi dengan membuka banyak cabang baru dan menawarkan produk² layanan baru. Akibatnya, resiko dan beban kerja akan jadi jauh lebih tinggi.
Bagai ngebandingin apel sama duren.
Tapi saya ngga (boleh) puas dengan kenyamanan saat ini. Ngeliat umur, saya lumayan tertinggal dibanding temen² seangkatan saya. Banyak yg udah mencapai level senior staf atau bahkan manajer. Ada juga yg udah mulai menunjukkan hasil dari bisnis yang dibangunnya. Sementara level saya, alhamdulillah sekarang masih junior staf. ![]()
Kepindahan saya ke tempat baru disertai kenaikan level yang kalo saya bertahan di tempat sekarang, paling cepet baru bisa saya capai tahun depan. Ini kesempatan buat memperkecil gap tersebut.
Itu aja?
Of course not. Saya dapat benefit yang lebih baik di tempat baru. But that’s for later to tell.
Saat ini yang mau saya ceritakan adalah pengalaman tentang gimana ngga enaknya saat harus mengambil keputusan untuk pindah kerja. Apalagi saat Anda sudah merasa betah di tempat sekarang. Bersiaplah untuk menghadapi beberapa hal berikut:
- Ketakutan menghadapi tantangan dan suasana kerja di tempat baru
- Rasa sedih berpisah dengan rekan kerja
- Demam panggung saat harus menyerahkan surat pengunduran diri
- Tawaran balik disertai iming² untuk tetap tinggal
- Reaksi negatif atau bahkan permusuhan dari atasan kalo iming²nya ditolak
Hal² itu sempat menjadikan saya ngerasa sangat ngga nyaman. Ibarat kata, makan tak nikmat tidur tak lelap. Berulang kali saya harus meyakinkan diri kalo keputusan pindah adalah yang terbaik.
Pernahkah Anda berada di posisi seperti ini? Bagaimana Anda mengambil keputusan untuk pindah kerja? Bahagiakah Anda dengan keputusan itu?
2. I’m getting married !
Yes! Me! Saya akan menikah akhir tahun ini!
Saya bersyukur akhirnya bisa mencapai target kemapanan, untuk berani mengambil alih tanggung jawab atas pasangan saya. Dia akan menjadi pelengkap dan teman hidup yang terbaik!
Sifat kami berbeda, tapi saling mengisi. Dalam hal finansial pribadi, dia konservatif padahal saya cenderung agresif. Saat ingin mencoba peluang baru, dia akan selalu menantang fakta dan argumen saya. A very tough sparring partner. Ngga mudah meyakinkannya mengubah konsep yang dia percaya. But once convinced, she will back me up for better or worse.
Enough with the sweet talks.
Konsekuensinya, mulai saat ini semua keputusan yang menyangkut finansial ngga mungkin saya putuskan sendiri. Saya harus menyertakan dan memperoleh persetujuan pasangan saya. Segi positifnya, pasti akan ada sudut pandang baru yang mungkin ngga terpikir oleh saya. Tapi, saya yakin juga pasti akan muncul perbedaan pendapat, adu argumen, dan mungkin cemberut²an di dalamnya. Hehehe. Bakal seru nih…
Apakah ada perbedaan pengambilan keputusan finansial Anda saat sebelum dan setelah menikah? Sulit yang mana? Bagaimana cara mengatasi perbedaan yang timbul? Silahkan berbagi!
Tulisan Terbaru
- Menolak Penawaran Kartu Kredit
- Makan Hemat di Mall
- Perencanaan Dana Pendidikan
- Resolusi 2009
- Belajar Pentingnya Menabung Dari Seorang Pengemis
- Biaya Administrasi Tabungan Udah Ngga Jaman Lagi
- Melangkah Keluar dari Kenyamanan
- PosFin: Juni 2008 (+1,478.42 borz = 12.65%)
- Estimasi Perolehan Cashback Danamon Lebih
- Danamon Lebih: Tabungan Dengan Potensi Imbal Hasil 25%!

Jul 10th, 2008 at 16:08
Saya gak sengaja ketemu blog ini di internet sekitar sebulan lalu. Dan saya sering mampir ke sini karena saya juga lagi mikir2 mau menata kondisi finansial saya. Tulisan Anda bagus, karena (bagi saya) simple dan mencerminkan dinamika kondisi Anda sehari-hari, bukan melulu berisi petuah2 dari financial planner. Hehehe.
Saya minta ijin mengadaptasi beberapa ide dari Anda, misalnya konversi mata uang borz utk ditampilkan di blog saya. Atau mungkin beberapa langkah Anda yang lain akan saya pelajari, dan jika memang bagus untuk saya dan realistis, akan saya ikuti jejaknya.
Thanks untuk sharing2nya. Keep on writing
Tumpu
Jul 10th, 2008 at 21:23
Hai Mas Tumpu!
Terima kasih komentarnya.
Seneng sekali kalo apa yg saya tulis bisa bermanfaat buat Mas.
Silahkan gunakan konten disini yang sekiranya bisa Mas adopsi, tp jangan lupa bagi-bagi ilmu juga kalo ada ide baru ya!
Jul 11th, 2008 at 15:52
Betul banget tuch….kalo udah nikah emang semua2 yg berhubungan dengan keputusan finansial mesti dirundingin.
Tapi tenang aja….kalo emang konsep & tujuannya OK pasti didukung ama pasangan kok……pinter2 ngomong aja
Good luck !
Feb 28th, 2009 at 10:14
selamat atas rencana kawinannya! pengambilan keputusan finansial sama pasangan penting didasari dengan itung2an dan angka spy meminimalisasi emosi dan perasaan. dan kudu saling terbuka, banyak komunikasi.