Mempersiapkan prioritas dan memprioritaskan persiapan
Menyiapkan dana darurat jadi prioritas utama saya saat ini. Sejak mulai kerja, kelebihan dana dari pendapatan bulanan selalu saya habiskan untuk investasi. Awalnya saya beralasan, ini adalah bentuk tabungan sekaligus investasi saya jangka panjang. Uang tidur yang menurut saya ngga akan diperlukan dalam waktu dekat, daripada dibiarkan di rekening tabungan biasa yang imbal hasilnya kecil mendingan dibeliin reksadana saham. Plus ditambah ngurangin resiko gesek kartu debit kalo masih ada saldo. ;)

Tapi apakah benar dengan menginvestasikan semua kelebihan uang tanpa ada simpanan tunai, kehidupan finansial saya akan jadi lebih baik? Bisa ya, bisa tidak.
Ya, kalau semua berjalan lancar seindah mimpi.
Tidak, kalau kita hidup di dunia nyata. Dan sayangnya, hidup ini memang nyata. Banyak hal² (kalo ngga mau disebut rintangan) unik yang mungkin menelikung jauh dan menyimpang dari harapan finansial kita.

Kenapa perlu?
Saya mulai tersadar tentang ini saat harus membayar ongkos dokter + obat sebesar lebih dari 500rb rupiah untuk sakit yang “ngga penting”, diare + flu.
Wow. Uang segitu ngga sedikit!
Memang sih, saya tinggal teruskan tagihannya ke kantor dan beban tunai buat saya cuma sepersepuluh total tagihan. Tapi gimana kalo nanti batas tunjangan kesehatan saya habis? Mo bayar pake apa?

Berapa banyak?
Mempertimbangkan faktor² penentu tingkat dana darurat yang harus disiapkan, saya cukup nyaman dengan target awal 2 kali pengeluaran pokok bulanan. Which is around 2,815.32 borz / bulan.
Biar angkanya bagus, gimana kalo kita bulatkan saja targetnya jadi 6,000 borz?

Okay, all set! :mrgreen:

Tujuan finansial pertama saya adalah menumpuk bantal dana darurat sebesar 6,000 borz dan target saya bisa memenuhinya dalam waktu 4 bulan.


Leave a Comment