Balada Nasabah Terpilih
“Selamat, Bapak adalah nasabah terpilih produk eksklusif kartu kredit platinum dari bank kami. Syaratnya mudah… *bla bla bla*“.
Bosen deh dengernya… Hampir setiap hari saya menerima telpon dari telemarketer yang menawarkan produk perbankan dan turunannya. Entah itu asuransi, kredit tanpa agunan ato paling sering ya kartu kredit (dengan pakem salam pembuka seperti ilustrasi di atas). Mungkin bulan-bulan ini memang saat mereka sedang giat-giatnya mengejar target tengah tahun…
Selain memang saya ngga berminat nambah kepemilikan kartu identitas setan kredit ini, kadang jam nelponnya juga berbenturan dengan kepentingan lain di kantor. Jadi serba salah, mau nolak halus, mereka pantang menyerah dan terus merayu; mau nolak kasar, ngga enak juga rasanya (krn saya juga pernah ngalamin kerja sambilan sbg telemarketer).
Resiko Bikin Kartu Kredit yang “Sekedar Iseng”
Rekan-rekan pemasar tersebut biasanya sudah punya contekan jawaban atau sanggahan untuk berbagai macam alasan penolakan kita. Jadi kadang meski udah dibilang “Maaf ya, saya ngga butuh nambah kartu baru…“, pasti ada serangkaian rayuan lain seperti “Coba dulu aja Mas, tokh biaya tahun pertama gratis. Kalo ngga cocok, tutup aja setelah beberapa bulan… ”
Buat temen-temen yang memang berminat untuk bikin kartu kredit, silahken aja dilanjut kalo memang dirasa bagus. Jangan lupa cari informasi ttg pengunaan kartu kredit yang bertanggung jawab. Tapi buat yang bikin kartu kredit hanya karena iseng memanfaatkan gratis iuran tahun pertama, silahkan pertimbangkan lagi resiko-resiko berikut:
1. Resiko pencurian identitas: media massa sering meliput korban salah tagih kredit akibat pencurian identitas
2. Resiko penyalahgunaan kartu kredit lampiran: fotokopi bolak-balik kartu kredit aktif yang jatuh di tangan yang salah bisa memunculkan potensi penyalahgunaannya (terutama utk transaksi online)
3. Resiko penggunaan kartu kredit di luar kendali: misalnya berawal dari beli gadget yang udah diidamkan dari dulu lewat program cicilan, tanpa disadari ini bisa jadi belitan hutang yang mengacaukan anggaran bulanan
Jurus Ampuh Menolak Penawaran Kartu Kredit
Dulu saya berusaha sabar menolak tawaran-tawaran itu dengan halus, tapi akibatnya waktu saya tersita dan konsentrasi kerja juga jadi buyar. Sekarang, saya punya jurus ampuh. Karena biasanya penawaran itu bersyarat fotokopi kartu identitas dan kartu kredit yang sudah dimiliki, tinggal bohong dikit dengan bilang saya belum pernah punya kartu kredit. Hehehe…
Sepertinya, respon seperti ini belum ada di buku panduan mereka karena mayoritas pemasar yang mendengar jawaban saya tersebut jadi tercekat dan salah tingkah. Ngga sampe semenit, telpon pun berakhir tanpa ada korban!
Temen-temen punya kiat lain yang juga efektif untuk mengakhiri penawaran seperti ini? Atau ada cerita lain yang unik? Silahkan berbagi!
Pengeluaran Tak Terencana
Sebelum menikah, salah satu pos pengeluaran kami yang cukup besar adalah makan di luar. Biasanya diawali dengan acara ‘tak berdosa’ seperti nonton film, beli buku, atau sekedar belanja bulanan. Karena asyik memilih dan melihat-lihat, waktu berjalan tanpa terasa dan tahu-tahu sudah saatnya makan.
Seringkali kami bikin alasan yang ‘membenarkan’ pengeluaran tak terencana ini. “Sekali-kali ngga papa deh…” atau “Bulan ini kan belum boros…” atau “Udah lewat tanggal cetak kartu kredit kok. Jadi bayarnya masih 2 bulan lagi…”. Sounds familiar?
Apapun alasan tersebut, kenyataannya kami akan menambah pengeluaran yang sifatnya non-kebutuhan (a.k.a pemborosan). Walau kami punya anggaran dana rekreasi akhir minggu, seringkali tembus dan membengkak hingga 150%. Dan temen2 tau sendiri, makan berdua di mall ngga cukup dengan selembar 50ribuan saja. Memang idealnya pengeluaran ekstra ini dicegah dengan misalnya makan di rumah sebelum berangkat pergi, namun apa yang harus kita lakukan saat perut udah keroncongan dan ngga bisa diajak kerja sama lagi?
1. Manfaatkan program promosi kartu kredit atau kartu debit Anda
Saatnya mengambil keuntungan dari program promosi kartu kredit atau kartu debit yang Anda miliki. Luangkan waktu sejenak untuk berkeliling di antara deretan restoran ‘calon korban’, dan pelajari program promo yang ditawarkan. Atau, jangan ragu untuk menghubungi Call Center kartu penerbit.
2. Berbagi makanan dan minuman
Sebisa mungkin, kami akan pilih restoran dengan menu tengah. Dengan demikian, makanannya bisa bervariasi dengan jumlah yang cukup untuk berdua. Selain itu, di tempat yang harga minumannya ngga masuk akal, kami suka berhemat berbagi minum atau bawa air mineral sendiri bila memungkinkan.
3. Cari kantin karyawan
Ini alternatif favorit saya. Hampir setiap mall pasti punya kantin karyawan. Tempatnya bersih, murah, dan ngga kalah enak kok sama yang di dalam.
Untuk mencari tempatnya, tinggal tanya satpam setempat!
Untuk makan siang di hari kerja pun saya sering nebeng di kantin mall. Udah dijemput gratis (pakai free shuttle bus mereka), bisa disambi jalan-jalan, perut pun kenyang tanpa pusing mikir harga!
Ada yang punya pengalaman atau masukan mengenai ini? Silahkan berbagi!
Suatu hari, di dalam patas AC menuju bilangan Sudirman, terlihat pasutri muda yang terlibat ‘perbincangan hangat’. Mereka adu argumentasi tentang rencana persiapan dana pendidikan anak. Si istri yang konservatif dan ingin semuanya serba aman, menentang paparan suami tentang rencana dana pendidikan menggunakan instrumen investasi yang agresif.
Ada point logika si istri yang sangat masuk akal. Saat ini investasi keuangan belum bisa dipegang. Arahnya masih belum jelas. Sejak medio 2007 dunia menyaksikan bersama betapa perhitungan nilai ekonomis di atas kertas sangat rapuh. Dan sekalinya rontok, seluruh industri keuangan pun terguncang. Selain itu, penegakan peraturan pasar keuangan juga tidak seindah yang dijanjikan. Contoh terakhir di tanah air adalah kasus penyalahgunaan dana nasabah Sarijaya Sekuritas. Sehingga menurutnya, simpanan bentuk tabungan & deposito adalah pilihan terbaik. Bahkan kalo perlu, ambil asuransi pendidikan sekalian.
Si suami setengah mati berupaya meyakinkan istrinya, kalo hanya mengandalkan simpanan biasa, dana yang harus disisihkan cukup besar. Padahal jika ditambahkan instrumen lain seperti reksadana misalnya, ada potensi efisiensi penyisihan dana mengingat jangka waktu investasi yang terbilang panjang.
Berikut adalah hasil coret-coretan rencana dana pendidikan SMA, dengan asumsi usia anak 0 tahun:
| Jenjang Sekolah | Komposisi Instrumen | Sekolah Negeri | Sekolah Swasta |
| SMA | Deposito | 149,185.23 | 248,642.04 |
| Depo & RD | 119,077.43 | 198,462.39 | |
| Depo, RD & Saham | 96,415.68 | 160,692.80 |
Dari tabel di atas, terlihat bahwa dengan persiapan dana pendidikan melalui reksadana (dan) saham memungkinkan penghematan hingga 30%!
Dia lebih lanjut menceritakan tentang pengelolaan resiko. Salah satunya adalah dengan membagi dana pendidikan jadi dua tenor. Dana untuk TK dan SD dianggap jangka pendek, sehingga dipilih instrumen yang aman, tabungan dan deposito. Sedangkan untuk pendidikan menengah ke atas, sebagian dana bisa disisihkan untuk instrumen yang lebih beresiko, tentunya dengan mengharap imbal hasil yang lebih tinggi. Di samping itu, dengan menyeimbangkan portfolio dari waktu ke waktu, dana kelolaan selalu dapat disesuaikan dengan profil resiko yang disukai.
Setelah mendengar penjelasan terakhir tersebut, si istri terlihat cukup dapat menerimanya. Tapi hanya setelah si suami berjanji untuk menaruh seluruh jatah tabungan dana pendidikan di deposito, hingga keadaan ekonomi membaik!
Padahal, diem-diem dia berencana untuk meneruskan pembelian reksadana rutin. Hanya saja porsinya akan mengecil dibandingkan sebelumnya.
Hehehe.
Disclaimer: Angka yang penulis gunakan adalah angka optimis dan tidak merefleksikan keadaan sebenarnya. Better research your own numbers and consult with the experts. Or let’s discuss it together!
Minimal satu tulisan baru tiap hari Minggu.
Mampukah saya?
Bismillahirrahmanirrahim…
Selamat tahun baru!
“ I saved for the days when I cannot beg ”
Ini kalimat terindah buat saya dalam minggu ini. Dan mungkin akan bertahan untuk beberapa minggu ke depan. Heck, mungkin ungkapan itu akan terus jadi inspirasi saya dalam usaha menata finansial pribadi.
Yang mengutarakan itu bukan ahli perencanaan finansial. Bukan juga ahli terpandang yang ucapannya sering dikutip orang. Ungkapan itu muncul dari seorang pengemis di India, yang barusan saja menyetorkan seluruh simpanan koin miliknya ke bank. Ibu Das, secara rutin menyimpan sebagian dari hasil jerih payahnya sejak ia memulai karir sebagai pengemis di usia 16 tahun.
Ungkapan itu polos dan jujur. Datang bukan dari bangku kuliah ekonomi atau dari kursi training pengelolaan finansial. Ungkapan itu datang dari kearifan dan kesederhanaan seseorang yang pernah (dan masih) berada dalam posisi ekonomi sulit. Tapi dia percaya persiapan untuk menopang hidup di masa tua, saat dia tak lagi dapat bekerja, harus dimulai sedini mungkin.
Wow.
Tapi kadang kita, yang posisinya jauh lebih beruntung, masih saja mengeluhkan sulitnya mengelola finansial dan merencanakan masa depan. Masih pantaskah kita mengeluh?
Siapkan Meskipun Kecil, Siapkan Mulai Sekarang
Ada satu karakteristik persiapan dana pensiun yang harus dimanfaatkan kaum muda, termasuk saya. Yaitu jangka waktu yang terhitung cukup lama, antara 20-30 tahun, hingga waktu harapan pensiun tiba. Karakteristik ini akan sangat menguntungkan mereka yang memulainya sedini mungkin. Karena dana yang kita siapkan akan ikut tumbuh seiring dengan berjalannya waktu.
Tapi ada satu syarat yang harus dijaga…, konsistensi.
Saya harus disiplin dan memaksa diri menyisihkan sebagian pendapatan untuk persiapan pensiun. Dengan demikian, meskipun awalnya bernilai kecil, waktu akan jadi teman baik saya menyiapkan penopang hidup saat saya tak bisa lagi mengemis.
Cerita lengkap tentang Ibu Das dan simpanan hidupnya bisa dibaca di sini dan di sini.
Cash Back Bukan Cuma Untuk Yang Berduit
Komentar dari temen² pembaca di tulisan ttg Danamon Lebih mengusik saya. Ilustrasi yang saya sajikan di tulisan tersebut adalah untuk potensi perolehan maksimal cash back. Akibatnya, nominal yang terlibat terlihat sangat besar. Saya mengilustrasikan memutar uang satu juta rupiah per bulan menggunakan kartu debet Danamon, angka yang buat belanja bulanan saya sendiri juga sepertinya ngga akan segitu gedenya.
I wrote that on the sole purpose of making an impact. Memancing keingintahuan temen² untuk berdiskusi lebih lanjut.
Tapi apakah tabungan ini hanya akan bermanfaat untuk nominal besar?
Tidak.
Justru kalo isi rekening tabungan Anda terbatas, segera lah pindah dari tabungan yang masih mengenakan iuran bulanan ke tabungan² bebas biaya yang belakangan ini mulai banyak ditawarkan. They are ripping you off!
Perbandingan Hasil Tabungan Dengan dan Tanpa Biaya Administrasi
Untuk ilustrasi kali ini, saya akan membandingkan 3 tabungan:
- Tabungan konvensional. Suku bunga tahunan 4%, biaya administratif Rp 9,000/bulan
- Tabungan bebas biaya, tanpa cash back. Suku bunga tahunan 1.5%, biaya administratif Rp 0/bulan
- Tabungan bebas biaya, dengan cash back. Suku bunga tahunan 1.5%, biaya administratif Rp 0/bulan, cash back 5%
Asumsi awalnya sama, semua tabungan mulai dengan rekening awal Rp 1jt dengan setoran rutin Rp 100rb/bulan.
Namun ada sedikit perbedaan untuk tabungan ketiga. Setoran awal 1.2jt yang langsung digunakan untuk belanja di bulan itu juga Rp 200rb (utk bisa memenuhi syarat minimum transaksi). Setoran bulan² berikutnya Rp 300rb tapi karena dipotong belanja rutin bulanan Rp 200rb, jumlah efektif yang masuk tabungan sama seperti yang lain yaitu Rp 100rb.
Perhitungannya dapat dilongok di sini.
Hasil Perhitungan - Jauhi Tabungan Dengan Biaya Administrasi!
Hasil akhirnya di bulan ke 12 saya singkat sebagai berikut:
- Konvensional, total saldo : 1,948,305.31
- Tanpa Biaya Administrasi, total saldo : 2,018,214.34 (69,909.03 +3.59%)
- Tanpa Biaya Administrasi + cash back : 2,118,778.72 (170,473.41 +8.75%)
Jadi, terlihat kan jahatnya biaya administrasi bulanan tabungan itu? Meskipun tabungan ke 2 suku bunga tahunannya jauh lebih kecil (1.5% dibanding 4%), hasil efektif yang kita terima akan lebih besar jika tanpa dipotong biaya administrasi. Tanpa kita sadari, biaya itu akan terus menerus menggerus saldo bulanan kita.
Apalagi nanti kalau dibandingkan dengan tabungan bebas biaya lain yang imbal hasilnya lebih besar! ![]()
Saya sedang menggali informasi tentang produk² tabungan lain yang layak untuk kita pertimbangkan. Hasilnya pasti nanti saya sajikan di sini.
Catatan Terakhir
- Perbandingan ini mengesampingkan faktor lain seperti jumlah ATM, electronic banking, dan preferensi subyektif lain
- Nantinya akan ada titik persilangan saat hasil bunga 4% dipotong biaya administrasi akan lebih besar dibandingkan hasil bunga 1.5% tanpa biaya. Dari coretan saya, titik itu ada di kisaran Rp 4.5jt. Saat saldo tabungan sudah lebih besar dari ini, silahkan evaluasi ulang produk mana yang akan paling menguntungkan Anda.
Bulan Juni lalu benar² bermakna buat saya. Di bulan tersebut, saya mengambil 2 keputusan yang akan mengubah hidup saya. Tulisan ini secara langsung memang ngga ada kaitannya dengan konsep GBL, tapi akan jadi dasar artikel lanjutan saya saat kedua hal ini dilihat dari sudut pandang pengelolaan finasial pribadi.
1. Pindah kerja ke tempat yang lebih kompleks dan dinamis
Minggu depan menandai satu tahun genap saya kerja di tempat yang sekarang. Tapi walo baru setahun, kerjaan sekarang sudah mengkondisikan saya di zona nyaman. Ngga banyak tuntutan, volume kerja normal, suasana & rekan kerja yang menyenangkan, dan resiko kerja juga terukur. Dari segi yang lebih luas, bisa dibilang juga perusahaan sekarang tuh aman, stabil dan ngga neko-neko.
Bandingkan dengan perusahaan baru yang akan saya tuju. Dari sejak wawancara pertama udah diwanti-wanti, basis penilaian di perusahaan tersebut adalah kompetisi dan kompetensi. Kalo ngga perform, siap² ditinggal. Trus perusahaannya sendiri sedang gencar2nya ekspansi dengan membuka banyak cabang baru dan menawarkan produk² layanan baru. Akibatnya, resiko dan beban kerja akan jadi jauh lebih tinggi.
Bagai ngebandingin apel sama duren.
Tapi saya ngga (boleh) puas dengan kenyamanan saat ini. Ngeliat umur, saya lumayan tertinggal dibanding temen² seangkatan saya. Banyak yg udah mencapai level senior staf atau bahkan manajer. Ada juga yg udah mulai menunjukkan hasil dari bisnis yang dibangunnya. Sementara level saya, alhamdulillah sekarang masih junior staf. ![]()
Kepindahan saya ke tempat baru disertai kenaikan level yang kalo saya bertahan di tempat sekarang, paling cepet baru bisa saya capai tahun depan. Ini kesempatan buat memperkecil gap tersebut.
Itu aja?
Of course not. Saya dapat benefit yang lebih baik di tempat baru. But that’s for later to tell.
Saat ini yang mau saya ceritakan adalah pengalaman tentang gimana ngga enaknya saat harus mengambil keputusan untuk pindah kerja. Apalagi saat Anda sudah merasa betah di tempat sekarang. Bersiaplah untuk menghadapi beberapa hal berikut:
- Ketakutan menghadapi tantangan dan suasana kerja di tempat baru
- Rasa sedih berpisah dengan rekan kerja
- Demam panggung saat harus menyerahkan surat pengunduran diri
- Tawaran balik disertai iming² untuk tetap tinggal
- Reaksi negatif atau bahkan permusuhan dari atasan kalo iming²nya ditolak
Hal² itu sempat menjadikan saya ngerasa sangat ngga nyaman. Ibarat kata, makan tak nikmat tidur tak lelap. Berulang kali saya harus meyakinkan diri kalo keputusan pindah adalah yang terbaik.
Pernahkah Anda berada di posisi seperti ini? Bagaimana Anda mengambil keputusan untuk pindah kerja? Bahagiakah Anda dengan keputusan itu?
2. I’m getting married !
Yes! Me! Saya akan menikah akhir tahun ini!
Saya bersyukur akhirnya bisa mencapai target kemapanan, untuk berani mengambil alih tanggung jawab atas pasangan saya. Dia akan menjadi pelengkap dan teman hidup yang terbaik!
Sifat kami berbeda, tapi saling mengisi. Dalam hal finansial pribadi, dia konservatif padahal saya cenderung agresif. Saat ingin mencoba peluang baru, dia akan selalu menantang fakta dan argumen saya. A very tough sparring partner. Ngga mudah meyakinkannya mengubah konsep yang dia percaya. But once convinced, she will back me up for better or worse.
Enough with the sweet talks.
Konsekuensinya, mulai saat ini semua keputusan yang menyangkut finansial ngga mungkin saya putuskan sendiri. Saya harus menyertakan dan memperoleh persetujuan pasangan saya. Segi positifnya, pasti akan ada sudut pandang baru yang mungkin ngga terpikir oleh saya. Tapi, saya yakin juga pasti akan muncul perbedaan pendapat, adu argumen, dan mungkin cemberut²an di dalamnya. Hehehe. Bakal seru nih…
Apakah ada perbedaan pengambilan keputusan finansial Anda saat sebelum dan setelah menikah? Sulit yang mana? Bagaimana cara mengatasi perbedaan yang timbul? Silahkan berbagi!
Wah, bulan ini saya boros.
Gara-gara bergabung dengan bookmooch.com, monster kutu buku di dalam diri saya jadi mengganas. Rasanya gatel banget, ingin baca buku sebanyak-banyaknya! Akibatnya, di kamar banyak tumpukan hutang buku yang belum terjamah. Hehehe..
Ini dan itu, pengeluaran saya lumayan membengkak selama bulan Juni. Kebiasaan jelek saya muncul lagi, belanja impulsif saat banyak pikiran. Untungnya, saya udah tutup satu lagi kartu kredit dan pembayaran di bulan lalu kebanyakan menggunakan uang tunai atau kartu debet. Utang di kartu kredit saya tinggal 409.34 borz, turun 76% lebih dibandingkan bulan lalu. Ini mau saya sikat habis di bulan Juli ini.
Performa investasi di reksadana memburuk dibanding bulan lalu. Awal bulan lalu sempat nambah penyertaan di Manulife Dana Saham untuk menurunkan NAV. Tapi kok ya akhir bulan ini tetep aja turun terus… :-s Oh well… Biarkan saja deh, tokh memang tujuannya untuk investasi jangka panjang. Sepertinya saya akan stop nambah unit baru di reksadana saham untuk sementara waktu. Setelah dipikir-pikir, saya ingin investasi dengan pembagian hasil yang rutin. Contohnya melalui pembagian dividen. Inginnya sih terjun langsung ke investasi saham, tapi modalnya belum kesampaian.
Performa reksadana saham terbaik bulan ini masih dipegang PNM Ekuitas Syariah. Manulife Dana Saham & Dana Tumbuh Berimbang masih memble.
Tentang target pembentukan dana darurat, I’m a little bit short this month. Penambahannya ngga nyampe 300 borz.
Bulan depan harus digeber lagi!
NetWorth as of June 2008
| Asset | Liabilities | ||
|---|---|---|---|
| Tunai | 372.14 | Kartu Kredit | (409.34) |
| Tabungan | 2,626.61 | Premi Asuransi | (539.33) |
| Dana Darurat | 1,966.68 | Utang Investasi | (6,876.50) |
| Manu Dana Saham | 4,206.80 | Utang Konsumsi | 0 |
| Manu Dana Tumbuh Berimbang | 4,045.00 | Revaluasi Reksadana | (340.49) |
| PNM Ekuitas Syariah | 4,045.00 | Revaluasi Nilai Tunai PruLink | (150.51) |
| Nilai Tunai PruLink | 2,305.73 | ||
| Jamsostek | 1,397.14 | ||
| Piutang | 514.52 | ||
! Highlight Posisi Finasial bulan Juni 2008:
- Menutup 1 kartu kredit dengan bunga tertinggi
- Mengurangi 76% utang kartu kredit
- Imbal hasil investasi masih negatif (-491.0 borz)
Lagi-lagi Disclaimer
Sumpah, saya ngga dibayar sama Danamon! ![]()
Tulisan ini sekedar menampilkan hasil oret²an dan estimasi saya untuk memperoleh manfaat maksimal dari tabungan Danamon Lebih.
Seorang pembaca menanyakan darimana saya bisa memunculkan angka 25% sebagai potensi imbal hasil yang bisa diperoleh dari tabungan ini. Sejujurnya, saya belum punya fakta kuat untuk mendukung pernyataan itu. Tapi akan saya sajikan perhitungan beserta asumsi-asumsi saya, biar temen-temen bisa ikut menilai apa itungan saya masuk akal apa engga.
Asumsi Perhitungan
Seperti yang telah saya uraikan di tulisan mengenai fitur tabungan Danamon Lebih, syarat untuk memperoleh cashback 5% dari transaksi menggunakan kartu debet adalah memiliki saldo minimum rata-rata 1juta dengan batas maksimal penggunaan kartu debet 1juta/bulan.
Artinya, untuk memperoleh hasil yang paling gede, yang akan saya lakukan adalah:
- Buka rekening dengan setoran awal Rp 2juta. Ini akan jadi modal untuk menjaga saldo sesuai aturan main, dan menyiapkan uang keluar dari penggunaan kartu debit. Saya asumsikan ini jadi biaya investasi
- Pakai kartu debit untuk belanja rutin, dengan penggunaan semaksimal mungkin mendekati limit sah memperoleh cashback (Rp 1juta). Uang perolehan cashback saya asumsikan jadi imbal hasil investasi
- Setor ulang Rp 1juta untuk modal ‘kerja’ di bulan berikutnya. Uang ini ngga saya masukkan hitungan karena sebenarnya (dan seharusnya) ini hanyalah pengeluaran rutin bulanan yang pembayarannya dialihkan ke kartu debit Danamon
- Karena kecilnya bunga di tabungan ini, saya ngga merekomendasikan Anda menyimpan lebih dari Rp 2juta. Taruh sisa uang Anda di tabungan lain yang menawarkan suku bunga yang lebih tinggi
Dengan berdasar asumsi itu, perolehan cashback dalam setahun (plus bunga) bisa mencapai Rp 567,286.68
Modal investasi Rp 2,000,000.00
Dus, imbal hasil dalam setahun = (567,286.68/2,000,000)*100% = 28.36%
Not bad at all, huh?
Spreadsheet perhitungan, bisa dilongok dari Google Docs
Saya menggunakan spreadsheet dari Google Docs untuk kalkulasi ini. Anda bisa mengaksesnya melalui alamat ini. Mungkin Tidak perlu akun di Google untuk bisa membukanya.
Gimana? Anda setuju ngga dengan asumsi² saya? Ada yang punya pengalaman dengan Danamon Lebih? Tahu program cashback lain yang layak kita ikuti? Atau ada informasi lain yang ingin ditambahkan? Silahkan berbagi di sini!
Sumpah, saya ngga dibayar sama Danamon! ![]()
Wow… Ini yang pertama kali tercetus waktu dapat penjelasan dari call center Danamon tentang produk baru mereka, tabungan Danamon Lebih. Tertarik membaca iklan mereka di harian Kompas, kemarin saya iseng nelfon untuk menggali informasi lebih lanjut. Dari informasi yang diberikan, tabungan ini sangat layak untuk dimiliki!
Pros: Bebas biaya administrasi, hingga cash back 5%!
Yakin uang di tabungan Anda akan terus tumbuh dengan bunga yang diperoleh? Coba periksa lagi cetakan buku tabungan Anda, terutama di awal dan di tengah bulan.
Bandingkan besar bunga yang diperoleh dengan biaya administrasi bulanan.. Gede yang mana? Berapa banyak dari kita yang kalo ngga ada penambahan setoran tabungan, saldo yang ada terkikis sedikit demi sedikit oleh biaya administrasi? Saya masih termasuk di golongan ini.
Makanya, poin pertama yang langsung menarik minat saya dari tabungan ini adalah ngga ada biaya bulanan (tabungan maupun kartu ATM). Tapi, biasanya ngga semudah itu Bank memberikan fasilitas gratisan. Selalu ada syarat di belakangnya. Umumnya saldo rata-rata bulanan harus di atas jumlah tertentu yang cukup besar, seperti tabungan Permata yang mensyaratkan saldo di atas 10 juta untuk dapet gratis biaya bulanan. Untuk Danamon Lebih, kita cukup memastikan saldo tidak pernah menembus angka kurang dari Rp 100 ribu. Kalo kurang dari itu, Bank akan mengenakan biaya Rp 5 ribu per bulan. Masih lebih murah dibandingkan Bank Mandiri (7 ribu) maupun BCA (10 ribu).
Poin kedua, yang lebih dahsyat, adalah program cash back sebesar 5% untuk pembayaran transaksi di semua merchant Alto maupun Visa menggunakan kartu debet Danamon. Syaratnya, minimum pembayaran sebesar Rp 200 ribu/transaksi dengan batas maksimal penggunaan adalah Rp 1 juta/bulan, dan saldo rata-rata minimum selama bulan itu adalah Rp 1 juta.
Wow… Lima persen dari Rp 1 juta! Tiap bulan! Ngga perlu ngapa-ngapain! Tanpa keringat, tanpa mikir, dan tanpa resiko! All you have to do is shop!
Dari mana angka 25% itu?
Kalo kita ingin memperoleh manfaat maksimal dari penawaran ini, berarti kita harus menggunakan kartu debet Danamon sebesar Rp 1 juta/bulan. Karena ada syarat saldo minimal sebesar Rp 1 juta, artinya kita harus menyiapkan dana Rp 2 juta di tabungan sebelum mulai berbelanja.
Setelah memaksimalkan limit transaksi kartu debet dengan memastikan saldo sisa tak pernah kurang dari Rp 1 juta, uang balikan yang akan kita peroleh di bulan berikutnya adalah 5% x Rp 1 juta = Rp 50 ribu.
Bulan berikutnya, kembali setorkan uang Rp 1 juta untuk memaksimalkan limit transaksi sembari menjaga saldo minimal, dan tunggu saja uang gratis Rp 50 ribu di akhir bulan. Gampang kan. ![]()
Ulangi terus proses ini for as long as you like atau sampai saat kita nemu produk lain yang lebih menguntungkan. Hehehe…
Di samping bebas biaya bulanan & cash back, sebenarnya ada lagi keuntungan lain yang ditawarkan Danamon Lebih seperti: gratis asuransi jiwa sebesar Rp 10 juta selama 6 bulan, gratis biaya transaksi dari ATM manapun utk saldo minimum Rp 2.5 juta, dan lain-lain.
Cons: Suku bunga rendah, hanya 1.5% tanpa menghiraukan besar saldo rata²
Ada plus pasti ada minus dong… Begitu juga dengan tabungan ini. Danamon memberikan bunga rata 1.5%/tahun berapapun besar saldo Anda. Untuk nasabah dengan aset besar, jelas ini bukan pilihan terbaik karena banyak produk dari Bank lain yang akan memberikan imbal hasil lebih besar.
Cabang Danamon yang ngga sebanyak Bank ritel terbesar juga bisa jadi kendala, kalo Anda sulit meluangkan waktu mengurus transaksi yang harus melalui counter.
Gimana caranya memaksimalkan manfaat produk ini?
- Gunakan Danamon Lebih sebagai rekening untuk membayar pengeluaran rutin Anda, seperti belanja bulanan
- Tempatkan cukup dana di rekening untuk menjaga saldo minimal Rp 1 juta setelah semua transaksi menggunakan kartu debet. Kalo perlu tambahkan beberapa ratus ribu dari target, sebagai bantal pengaman
- Perhatikan syarat-syarat transaksi kartu debet untuk memperoleh cash back dan catat dengan cermat semua transaksi yang telah dilakukan
Produk ini mungkin ngga cocok untuk semua orang. Tapi buat saya, ini kesempatan untuk memperoleh tambahan Rp 500 ribu/tahun tanpa kerja keras. Minggu ini daftar ah.
Tulisan Terbaru
- Menolak Penawaran Kartu Kredit
- Makan Hemat di Mall
- Perencanaan Dana Pendidikan
- Resolusi 2009
- Belajar Pentingnya Menabung Dari Seorang Pengemis
- Biaya Administrasi Tabungan Udah Ngga Jaman Lagi
- Melangkah Keluar dari Kenyamanan
- PosFin: Juni 2008 (+1,478.42 borz = 12.65%)
- Estimasi Perolehan Cashback Danamon Lebih
- Danamon Lebih: Tabungan Dengan Potensi Imbal Hasil 25%!
